Dasar lo Friendster...
Terus terang, dari sejak dulu saya tidak begitu menyukai friendster. Dari kacamata saya yang minus satu ini, friendster terlihat begitu ramai dengan warna-warni dan pernak-pernik gambar, mulai dari gambar diam sampai yang berkerlap-kerlip seperti lampu diskotik, mulai dari gambar sekecil icon sampai yang segeda gajah.
Sampai suatu ketika saya menyampaikan materi pelajaran yang di dalamnya ada menyinggung tentang friendster. Hari itu materinya tentang album photo internet. Seperti biasanya saat mengajar saya selalu mengajak berdiskusi dengan teman-teman mahasiswa. Ketika saya bertanya mana yang lebih baik dan menarik antara friendster dan flickr, semuanya menjawab: 'friendster, pak!'. Dalam hati saya berkata dimana sih menariknya friendster.
Setelah beberapa waktu kemudian saat di depan komputer saya mencoba mempelajari friendster. Ternyata jawabannya sangat simpel, dan jawaban itu melekat erat pada brand image nama friendster itu sendiri. Friendster lebih fokus pada pertemanan, dan bahkan sistem penariannya pun sangat baik sekali. Hampir semua kategori kebutuhan untuk mencari spesifikasi teman dapat dilakukan dengan sangat baik dan lengkap. Berbeda dengan beberapa layanan sejenis lainnya yang lebih mementingkan pada kumpulan photo itu sendiri, sehingga lebih menekankan pada kategori photo bukan nama, pekerjaan, kota, dan lainnya seperti di friendster.
Selain itu, friendster juga memberikan keleluasaan kepada setiap user untuk memodifikasi tatap muka (interface) halaman mereka dengan fungsi pengeditan css-nya. Dan ini juga yang menjadikan friendster lebih menarik. Wajah halaman dapat diubah sedemikian rupa sehingga berubah total dari aslinya. Banyak situs yang menyediakan skrip css yang sudah jadi tinggal di copy-paste saja. Berbeda dengan contohnya: flickr. Flickr tidak menyediakan fitur ini dengan harapan tampilan halamannya tetap elegan dan bersih. Namun flickr memiliki kelebihan pada ukuran gambar/photo yang dapat di-upload. Dan memang dari sisi tampilan, saya lebih menyukai yang elegan dan bersih seperti flickr.
Sampai akhirnya saya kembali bertemu dengan situasi kelas yang sama persis pada beberapa bulan berikutnya. Dan ketika itu saya sudah jauh lebih mengerti mengapa jawabannya sama. Saya pun akhirnya ikut registrasi dan memiliki halaman di friendster walaupun baru beberapa hari ini saya sempat untuk menggunakannya. Jadi harap maklum saja kalau friendster saya jelek dan tidak seindah punya teman-teman, karena saya sepertinya lebih baik fokus pada sistem pertemanannya saja. Daripada pusing mikirin tampilan, lebih baik saya mencari teman sebanyak-banyaknya. Alih-alih mau tampilan 'ngejreng' malahan nantinya hanya punya teman cuman satu dua.
Oya, satu lagi. Saya perhatikan banyak juga user friendster yang tidak memasang photo defaultnya, padahal kalau photo default tidak ada dapat mengurangi rasa percaya dari teman yang mau bergabung. Dan tambahan lain: karena ini bersifat mencari teman-teman baru sebanyak dan seluas-luasnya, maka sebaiknya lebig dipermudah untuk user lain bergabung. Bagaimana mau bergabung kalau user lain gak tahu alamat email yang dipakai atau nama yang punya friendster.
Salam Persahabatan dari Saya...

Comments